loader image

Gereja Katolik Keuskupan Manado

Uskup Memimpin Misa Tirakatan dan Pemberkatan Jenasah alm Johanis Dengah di Rumah Duka, 16 Juli 2026

Perayaan Ekaristi Tirakatan dan Pemberkatan Jenazah

Pada Kamis, 16 Juli 2026, Uskup berkenan hadir di tengah keluarga yang sedang berdukacita untuk memimpin Perayaan Ekaristi Tirakatan dan Pemberkatan Jenazah. Perayaan dilangsungkan di rumah duka keluarga Kehadiran Uskup pada malam itu menjadi ungkapan perhatian pastoral sekaligus tanda kedekatan seorang gembala dengan umat yang sedang mengalami kehilangan.

Uskup tiba di rumah duka sekitar pukul 18.45 WITA. Kedatangan beliau disambut oleh keluarga besar almarhum, umat Wilayah Rohani, para pelayat dari kalangan umat Katolik, serta warga sekitar yang turut hadir untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan penghiburan kepada keluarga.

Tepat pukul 19.00 WITA, Perayaan Ekaristi Tirakatan dimulai. Uskup bertindak sebagai selebran utama dan didampingi oleh Pastor Asisten sebagai konselebran. Umat Wilayah Rohani almarhum bertanggung jawab atas persiapan dan pelayanan selama perayaan berlangsung. Keterlibatan umat tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang hidup dalam komunitas basis Gereja, terutama ketika salah seorang anggotanya mengalami dukacita.

Dalam kata pengantar pada awal Perayaan Ekaristi, Uskup menyampaikan alasan yang melandasi kehadirannya. Beliau mengungkapkan bahwa kehadiran tersebut merupakan wujud kasih, penghormatan, dan ungkapan terima kasih kepada almarhum beserta seluruh keluarganya. Selain sebagai bentuk perhatian pastoral, kehadiran Uskup juga memiliki arti pribadi karena adanya hubungan kekeluargaan dengan orang tua dari  almarhum. Ikatan kekeluargaan itu mendorong Uskup untuk datang, berdoa, serta mengambil bagian dalam suasana kehilangan yang sedang dialami keluarga.

Perayaan tersebut juga menjadi kesempatan bagi umat untuk menyatakan solidaritas dan kedekatan dengan keluarga yang berduka. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya diperuntukkan bagi keselamatan kekal almarhum, melainkan juga bagi keluarga yang ditinggalkan agar memperoleh kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dari Tuhan. Melalui kehadiran dan doa bersama, seluruh umat saling meneguhkan dalam iman, pengharapan, dan kasih.

Sesudah Perayaan Ekaristi, Uskup melanjutkan rangkaian ibadat dengan memimpin upacara pemberkatan jenazah. Dengan doa-doa Gereja dan percikan air suci, jenazah diberkati sebagai penghormatan terakhir kepada tubuh yang semasa hidup menjadi kediaman Roh Kudus. Dalam upacara tersebut, almarhum kembali dipercayakan kepada belas kasih Allah, sementara keluarga diteguhkan agar mampu menerima peristiwa kehilangan dengan iman dan pengharapan Kristiani.

Setelah seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi dan pemberkatan jenazah selesai, Uskup berpamitan kepada keluarga serta umat yang hadir. Beliau kemudian kembali ke Lotta untuk melanjutkan kegiatan Lokakarya Pendidikan Katolik Keuskupan Manado. Meskipun kehadirannya berlangsung dalam waktu yang terbatas, perhatian dan doa yang diberikan Uskup membawa makna mendalam bagi keluarga yang sedang berdukacita.

Kehadiran Uskup pada malam itu tidak hanya menjadi penghormatan kepada almarhum dan keluarganya, tetapi juga menggambarkan wajah Gereja yang hadir, berjalan bersama, dan mengambil bagian dalam pengalaman hidup umat. Dalam suasana dukacita, Gereja hadir membawa penghiburan dan menyalakan pengharapan bahwa kasih Allah lebih kuat daripada kematian. Perayaan tersebut akhirnya menjadi suatu peristiwa iman yang mempertemukan kesedihan manusia dengan pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal dalam Kristus.