Pada Senin, 1 Juni 2026, Uskup Keuskupan Manado memimpin Misa Requiem bagi almarhum Pastor Abraham Mantow, Pr., yang akrab disapa Pastor Echa. Misa dilaksanakan di Kapela Seminari Pineleng dan dilanjutkan dengan upacara penguburan di kompleks pemakaman Seminari Kakaskasen.
Perayaan iman ini menjadi ungkapan penghormatan terakhir sekaligus tanda kasih dan persaudaraan bagi seorang imam yang telah menyelesaikan perjalanan hidup serta pelayanannya di tengah umat. Hadir dalam upacara tersebut para imam, frater, suster, keluarga yang berdukacita, para pelayan pastoral, serta umat dan masyarakat yang mengenal almarhum. Para pelayat datang dari berbagai paroki yang pernah menjadi tempat pelayanan Pastor Echa, termasuk mereka yang berasal dari luar daerah Sulawesi Utara.
Misa Requiem di Seminari Pineleng
Rangkaian upacara dimulai pada pukul 13.00 WITA. Perarakan jenazah bergerak dengan khidmat dari ruang baca Seminari Pineleng menuju kapela. Uskup Keuskupan Manado bertindak sebagai selebran utama dan didampingi oleh sekitar 110 imam yang berkarya di wilayah Keuskupan Manado.
Suasana duka menyelimuti seluruh rangkaian perayaan. Kendati demikian, Misa Requiem tetap berlangsung dalam semangat iman akan kebangkitan dan kehidupan kekal. Seluruh umat yang hadir bersatu dalam doa, memohon agar Allah yang Maharahim berkenan menerima jiwa almarhum Pastor Abraham Mantow ke dalam kebahagiaan abadi bersama para kudus di surga.
Dalam perayaan Ekaristi tersebut dibacakan riwayat hidup dan perjalanan panggilan almarhum. Disampaikan pula riwayat penyakit yang dideritanya hingga akhirnya ia dipanggil menghadap Tuhan. Kisah hidup tersebut menghadirkan kembali kenangan mengenai pengabdian Pastor Echa sebagai imam, pendidik, dan pelayan umat.
Setelah menyelesaikan studi di Roma, Pastor Echa kembali ke Keuskupan Manado dan mengabdikan pengetahuan serta kemampuannya sebagai dosen dan anggota staf di Seminari Pineleng. Melalui tugas tersebut, ia turut mengambil bagian dalam pendidikan dan pendampingan para frater sebagai calon imam. Pengetahuan, ketekunan, dan keteladanan hidupnya menjadi bagian penting dari karya pembinaan di seminari.
Dalam homilinya, Uskup mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian Pastor Echa. Keuskupan Manado masih sangat mengharapkan keteladanan, keahlian, dan pengabdiannya, terutama dalam pelayanan kepada umat dan pendampingan para calon imam. Namun, di tengah dukacita tersebut, Uskup mengajak seluruh umat untuk berserah kepada kehendak Allah serta memandang wafat dalam terang iman akan kebangkitan Kristus.
Uskup juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Pastor Echa yang telah mempersembahkan dan memercayakan salah seorang anggota keluarganya untuk melayani Tuhan dan Gereja sebagai imam di Keuskupan Manado. Almarhum telah menunaikan tugas perutusan dan pengabdiannya dengan setia serta memberikan seluruh hidupnya bagi pelayanan Gereja.
Seusai perayaan Ekaristi, rangkaian penghormatan terakhir dilanjutkan dan dipimpin oleh Pastor Melky Pantow, Pr., yang merupakan saudara almarhum. Setelah doa dan pemberkatan jenazah, keluarga, para imam, biarawan-biarawati, frater, serta seluruh pelayat diberi kesempatan untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada Pastor Echa.
Momen tersebut berlangsung dalam suasana haru. Doa-doa dipanjatkan bukan hanya bagi kedamaian kekal almarhum, melainkan juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Keluarga besar Pastor Echa dan seluruh keluarga Keuskupan Manado saling meneguhkan dalam iman, kasih, dan pengharapan akan janji keselamatan Tuhan.
Penyambutan dan Penguburan di Seminari Kakaskasen
Setelah seluruh rangkaian upacara di Seminari Pineleng selesai, Uskup bersama pastor pendamping dan pengemudi berangkat menuju Seminari Kakaskasen untuk mengikuti upacara penguburan.
Menjelang petang, jenazah Pastor Echa tiba di depan kompleks Seminari Kakaskasen. Kedatangan jenazah disambut oleh para pelayat dengan iringan drumben. Penyambutan dilaksanakan di halaman depan seminari dalam suasana yang khidmat dan penuh penghormatan.
Dari halaman seminari, jenazah kemudian diarak menuju kompleks pemakaman Seminari Kakaskasen. Para imam, keluarga, frater, suster, dan umat mengiringi perjalanan terakhir Pastor Echa sambil memanjatkan doa. Uskup Keuskupan Manado turut mengikuti seluruh rangkaian upacara penguburan di kompleks pemakaman tersebut.
Dalam ibadat penguburan, Gereja kembali menyerahkan almarhum ke dalam belas kasih Allah. Doa-doa dipanjatkan agar segala kelemahan manusiawinya diampuni dan segala karya baik serta pengabdiannya disempurnakan oleh Tuhan. Jenazah kemudian dimakamkan dengan penghormatan yang layak bagi seorang imam yang semasa hidupnya telah melayani Gereja dan umat Allah.
Pemakaman Pastor Abraham Mantow, Pr., bukan sekadar perpisahan dengan seorang anggota keluarga dan rekan sepelayanan. Peristiwa tersebut juga menjadi perayaan iman seluruh umat Keuskupan Manado: iman bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan pintu menuju persekutuan kekal dengan Allah.
Kehadiran begitu banyak imam, biarawan-biarawati, frater, umat, dan masyarakat menjadi kesaksian tentang luasnya jangkauan pelayanan serta persaudaraan yang telah dibangun Pastor Echa semasa hidupnya. Mereka datang untuk mengantar kepergiannya, mengenang pengabdiannya, dan saling menguatkan dalam pengharapan Kristiani.
Seusai seluruh rangkaian upacara penguburan, Uskup bersama pastor pendamping dan pengemudi kembali ke kediaman Keuskupan Manado. Pastor Echa kini telah menyelesaikan perziarahan hidupnya. Namun, keteladanan, ilmu, pelayanan, dan kesetiaannya dalam imamat akan tetap hidup dalam ingatan keluarga, para rekan imam, para frater, serta umat yang pernah dilayaninya.
Beristirahatlah dalam damai, Pastor Abraham Mantow, Pr. Semoga para malaikat menghantarkanmu ke dalam Firdaus dan semoga terang abadi menyinarimu.
