loader image

Gereja Katolik Keuskupan Manado

Uskup Keuskupsn Manado: Memberkati Gereja st. Petrus Tagulandang Paroki Siau, Senin 19 Oktober 2026

Pemberkatan dan Peresmian Gereja Stasi Santo Petrus Tagulandang
Paroki Santa Maria Ulu Siau | Senin, 19 Oktober 2026

Dua Puluh Tahun Menanti, Bertumbuh dalam Rumah Tuhan

Perjalanan iman umat Stasi Santo Petrus Tagulandang memasuki suatu babak baru. Pada Senin, 19 Oktober 2026, Bapa Uskup memberkati gedung gereja yang menjadi tempat umat berhimpun, mendengarkan Sabda Allah, dan merayakan iman. Peresmian gereja dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang diwakili oleh Sekretaris Daerah.

Peristiwa ini merupakan buah dari perjalanan panjang umat dalam memelihara kehidupan menggereja. Sejak tahun 2006, ketika komunitas ini masih berada dalam pelayanan Paroki Tahuna, umat melaksanakan peribadatan di sebuah rumah yang dipinjamkan oleh keluarga Bapak Theo Dumalang–Hadinda. Selama kurang lebih dua puluh tahun, rumah tersebut menjadi tempat umat memanjatkan doa dan merawat persekutuan.

Dalam perjalanan itu, tercatat pula pelayanan Pastor Yan S. Koraag yang menjadikan komunitas ini sebagai Stasi Santo Petrus Tagulandang. Kini, sebagai bagian dari Paroki Santa Maria Ulu Siau, umat memiliki gedung gereja yang layak dan indah untuk mendukung kehidupan iman mereka.

Kemurahan hati keluarga Theo Dumalang–Hadinda mendapat tempat tersendiri dalam sejarah stasi. Selain menyediakan rumah bagi kegiatan peribadatan, keluarga ini menghibahkan tanah tempat gereja kini berdiri. Rumah yang selama bertahun-tahun digunakan oleh umat telah dikembalikan kepada keluarga. Kesediaan mereka menyediakan tempat bagi persekutuan umat menjadi kesaksian tentang iman yang diwujudkan melalui pemberian diri.

Perjalanan Pastoral Menuju Tagulandang

Menjelang hari pemberkatan, pada pukul 15.15, Bapa Uskup bersama asisten Uskup serta Bapak Roby dan Ofni bertolak menuju pelabuhan. Dengan menumpangi kapal Saint Merry, rombongan berlayar menuju Tagulandang pada pukul 18.00.

Sekitar pukul 23.00, rombongan tiba dan disambut oleh umat bersama panitia pemberkatan dan peresmian gereja. Dari pelabuhan, rombongan menuju rumah Ci Ebi untuk makan malam dan beristirahat sebelum mengikuti rangkaian kegiatan pada keesokan harinya.

Kunjungan ini mempertemukan Bapa Uskup dengan umat yang telah lama menantikan hadirnya sebuah gedung gereja. Di tengah perjalanan dan keterbatasan yang menyertai kehidupan umat kepulauan, perjumpaan pastoral tersebut menjadi kesempatan untuk meneguhkan persekutuan antara gembala dan umat yang dipercayakan kepada pelayanannya.

Perarakan dan Pemberkatan Gereja

Pada Senin pagi, sekitar pukul 09.00, Bapa Uskup dan rombongan menuju sebuah rumah warga yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari lokasi gereja. Di tempat itu, Bapa Uskup bersama para imam mengenakan busana liturgis dan mempersiapkan diri untuk perayaan.

Perarakan kemudian bergerak menuju gereja, diikuti oleh para pelayan liturgi, perwakilan pemerintah, dan umat. Setibanya di depan gereja, Bapa Uskup dan rombongan diterima melalui penyambutan adat. Tradisi setempat turut mengiringi sukacita umat dalam menyambut kehadiran gembala mereka.

Rangkaian peresmian dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh Bapa Uskup dan perwakilan pemerintah, disaksikan oleh umat serta para undangan. Sesudah itu, Bapa Uskup bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sitaro melakukan pengguntingan pita.

Bapa Uskup selanjutnya memberkati bagian luar gedung gereja. Setelah umat memasuki gereja, pemberkatan dilanjutkan pada bagian dalam, altar, mimbar Sabda, patung-patung, serta bejana suci berupa piala dan patena.

Melalui pemberkatan ini, gedung gereja diperuntukkan bagi kehidupan doa dan perayaan iman umat. Altar menjadi pusat perayaan Ekaristi, tempat umat dipersatukan dalam kurban syukur Kristus; sementara dari mimbar, Sabda Allah diwartakan untuk menerangi dan membimbing kehidupan mereka.

Persekutuan Gereja dan Kehadiran Pemerintah

Perayaan ini dihadiri oleh asisten Uskup, Pastor Paroki Santa Maria Ulu Siau, Sekretaris Keuskupan, Pastor Joy Derry, Pastor Akri, dan Pastor Troy. Hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Sitaro, camat, lurah, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sitaro, para undangan, serta umat se-Paroki Santa Maria Ulu Siau.

Kehadiran para imam dan umat dari lingkungan paroki memperlihatkan persekutuan yang melampaui batas satu stasi. Sukacita umat Santo Petrus Tagulandang menjadi sukacita bersama seluruh keluarga besar paroki. Kehadiran pemerintah dan masyarakat juga menjadi bagian dari kebersamaan dalam peristiwa bersejarah ini.

Menjadi Batu-Batu Hidup

Berdirinya Gereja Santo Petrus Tagulandang menyimpan kenangan akan ketekunan umat, pelayanan para gembala, dan kemurahan hati keluarga yang telah menyediakan tempat bagi kehidupan menggereja. Penantian panjang itu kini memperoleh bentuk yang nyata dalam sebuah rumah ibadah.

Namun, kehidupan Gereja terus bertumbuh melalui iman umatnya. Gedung yang telah diberkati ini menjadi tempat untuk menimba kekuatan dari Sabda dan Ekaristi, agar umat semakin mampu menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Dalam semangat Santo Petrus, pelindung stasi, umat diundang untuk terus menjadi “batu hidup” dalam pembangunan rumah rohani (bdk. 1Ptr. 2:5). Semoga gereja ini senantiasa menjadi rumah doa, tempat terpeliharanya persaudaraan, dan sumber pengharapan bagi setiap orang yang datang mencari Tuhan.

“Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!”