loader image

Gereja Katolik Keuskupan Manado

Uskup Memberkati dan Meresmikan Gedung Gereja Baru Stasi BunakenParoki Tuminting serta Memimpin Misa Syukur, 14 Mei 2026

Pulau Bunaken—Pada Kamis, 14 Mei 2026, sebuah peristiwa bersejarah bagi Gereja Katolik di Pulau Bunaken berlangsung dalam suasana penuh syukur dan sukacita. Uskup memberkati gedung gereja baru Stasi Bunaken, Paroki Tuminting, dan bersama Pemerintah Kota Manado meresmikan penggunaannya. Rangkaian perayaan kemudian dilanjutkan dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup. Peristiwa iman ini dihadiri sekitar 1.000 orang, yang terdiri atas Pastor Asisten, para imam, suster dan bruder, unsur Pemerintah Kota Manado, pemerintah kecamatan dan kelurahan, masyarakat Bunaken, para tokoh lintas agama, umat Stasi Bunaken, umat pusat Paroki Tuminting, serta para undangan.

Pemberkatan dan peresmian tersebut merupakan bagian dari program pastoral Paroki Tuminting sekaligus agenda kunjungan Uskup. Kehadiran gedung gereja ini mempunyai arti yang sangat penting karena menjadi gereja Katolik pertama yang berdiri di Pulau Bunaken. Pada masa lampau, umat Katolik pernah hadir di pulau ini, tetapi kemudian tidak lagi tercatat sebagai komunitas yang menetap. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain jarak pelayanan dari Manado serta mobilitas umat yang pada umumnya tidak menetap di Bunaken.

Dalam perkembangan terakhir, komunitas Katolik di Bunaken kembali tumbuh dan kini berjumlah sekitar 15 keluarga yang menetap. Kerinduan umat akan tempat ibadat yang tetap memperoleh dukungan dari para donatur Katolik Keren, umat Paroki Tuminting, dan masyarakat setempat. Berkat semangat gotong royong serta kepedulian berbagai pihak, pembangunan gereja akhirnya dapat diselesaikan. Berdirinya gereja ini menjadi tanda nyata kehadiran Gereja di tengah masyarakat Bunaken sekaligus tonggak baru bagi kehidupan iman umat Katolik di pulau tersebut.

Sejak pagi hari, perjalanan Uskup dan rombongan menuju Bunaken berlangsung dengan tertib. Uskup didampingi Pastor Asisten, para imam, para suster, sopir, serta sejumlah umat dari Manado. Rombongan bertolak dari Pelabuhan Tateli dengan menggunakan dua kapal cepat. Setibanya di Pelabuhan Bunaken, Uskup dan rombongan disambut oleh panitia, umat, dan masyarakat setempat melalui tarian penyambutan khas Bunaken. Sambutan yang hangat tersebut mencerminkan kegembiraan seluruh masyarakat atas kehadiran Uskup dan atas selesainya pembangunan gedung gereja.

Dari pelabuhan, Uskup, Pastor Asisten, Camat, dan Lurah menuju lokasi gereja dengan menaiki bentor bernomor polisi DB KM 1, sarana angkutan yang menjadi salah satu ciri khas Pulau Bunaken. Sesampainya di halaman gereja, rombongan kembali disambut dengan tarian Pato-Pato yang dibawakan oleh masyarakat Bunaken dan umat Paroki Tuminting. Kehadiran umat dalam jumlah besar juga berkaitan dengan pelaksanaan ziarah Bulan Maria umat Paroki Tuminting yang pada tahun itu dipusatkan di Pulau Bunaken.

Setelah penyambutan di depan gereja, Uskup memberkati patung Santa Perawan Maria. Rombongan kemudian beristirahat sejenak sambil mempersiapkan diri untuk perayaan liturgis. Tepat pukul 10.00 WITA, upacara pemberkatan dan peresmian gedung gereja dimulai di depan bangunan gereja. Uskup bersama perwakilan pemerintah menandai peresmian tersebut melalui pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti. Dengan tindakan simbolis itu, gedung gereja secara resmi mulai digunakan sebagai tempat peribadatan dan pelayanan pastoral bagi umat.

Sesudah peresmian, perayaan dilanjutkan dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Uskup dan dikonselebrasikan oleh para imam yang hadir. Dalam perayaan Ekaristi tersebut, umat mengucap syukur kepada Allah atas penyertaan-Nya sepanjang proses pembangunan, atas kemurahan hati para donatur, serta atas dukungan pemerintah dan masyarakat. Perayaan berlangsung khidmat dan menjadi ungkapan persekutuan Gereja yang hidup di tengah keberagaman masyarakat Pulau Bunaken.

Menjelang berkat penutup, dilaksanakan rangkaian sambutan. Ketua Panitia Pembangunan terlebih dahulu menyampaikan laporan pelaksanaan pembangunan gereja. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan pemerintah dan Uskup. Pastor Paroki Tuminting kemudian menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, tenaga, perhatian, dan bantuan sehingga pembangunan serta seluruh rangkaian perayaan dapat terlaksana dengan baik.

Setelah berkat penutup, Uskup berfoto bersama para petugas liturgi, para imam, unsur pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang hadir. Kebersamaan berlanjut dalam acara ramah tamah yang dimeriahkan oleh penampilan paduan suara dari Manado, sapaan persaudaraan, serta makan bersama. Seusai acara rekreasi, Uskup kembali melayani permintaan foto bersama umat dan para undangan. Suasana persaudaraan yang terjalin menjadi kesaksian bahwa kehadiran gereja baru ini diterima dengan sukacita oleh masyarakat luas.

Gedung gereja Stasi Bunaken diharapkan menjadi pusat pertumbuhan iman bagi keluarga-keluarga Katolik yang menetap di Bunaken. Walaupun jumlah umat saat ini masih terbatas, gereja tersebut diharapkan mampu meneguhkan umat agar tetap bertumbuh dan berakar di pulau itu. Selain melayani umat setempat, gereja ini juga diharapkan menjadi tempat berdoa bagi para wisatawan Katolik yang mengunjungi Bunaken, baik pada hari biasa maupun pada hari Minggu. Sebagai destinasi pariwisata internasional yang setiap hari menerima banyak pengunjung, Bunaken kini memiliki ruang ibadat Katolik yang dapat menyambut umat dari berbagai daerah dan bangsa.

Menjelang petang, Uskup dan rombongan berpamitan kepada umat, panitia, pemerintah, dan masyarakat untuk kembali ke Manado. Setibanya di Pelabuhan Tateli, rombongan singgah untuk berekreasi dan makan bersama keluarga yang telah memfasilitasi transportasi Uskup dan rombongan. Setelah kebersamaan tersebut, Uskup melanjutkan perjalanan menuju rumah keuskupan dan tiba pada pukul 21.30 WITA.

Dengan demikian, pemberkatan dan peresmian gedung gereja baru Stasi Bunaken bukan sekadar menandai selesainya sebuah bangunan, melainkan juga membuka lembaran baru perjalanan Gereja Katolik di Pulau Bunaken. Peristiwa ini menjadi buah iman, kerja sama, dan persaudaraan banyak pihak. Semoga gereja ini senantiasa menjadi rumah doa, tempat perjumpaan, dan sumber pengharapan bagi umat Katolik serta seluruh masyarakat dan pengunjung Pulau Bunaken.